Jakarta — Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam mengerjakan tugas sekolah ternyata tidak selalu membuat siswa semakin pintar. Sebuah penelitian terhadap 26.811 siswa China usia 12–18 tahun menemukan adanya perbedaan mencolok antara nilai tugas dan kemampuan saat ujian tanpa bantuan AI.
Riset David Strömberg dari Stockholm University serta Victor Lei dan Yanhui Wu dari University of Hong Kong tersebut menggunakan data selama 30 bulan. Hasilnya, setelah menggunakan AI, nilai pekerjaan rumah siswa meningkat sekitar 18%, sementara waktu pengerjaan berkurang sekitar 30%.
Namun, ketika mengikuti ujian tertutup tanpa bantuan AI, nilai siswa justru turun sekitar 20% dalam enam bulan. Nilai ujian masuk sekolah menengah dan perguruan tinggi juga diperkirakan turun masing-masing 18% dan 24%.
Penurunan paling besar ditemukan pada siswa yang menggunakan AI dengan pola seperti outsourcing pekerjaan rumah, yakni mendapatkan nilai tinggi tetapi menyelesaikan tugas jauh lebih cepat. Sebaliknya, siswa yang menggunakan AI sebagai alat bantu belajar dan tetap meluangkan waktu untuk berpikir mengalami dampak yang jauh lebih kecil.
Temuan ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar boleh atau tidak menggunakan AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan. AI dapat membantu pembelajaran jika dimanfaatkan sebagai tutor, pemberi penjelasan, atau teman berdiskusi. Namun, jika AI menggantikan proses berpikir siswa, nilai tugas yang tinggi belum tentu mencerminkan kemampuan belajar yang sebenarnya.
Bagi orang tua dan guru, riset ini menjadi pengingat bahwa penggunaan AI perlu diarahkan agar membantu anak berpikir, bukan berpikir menggantikan anak.









