Bandung – Memasuki tahun akademik 2026/2027, Universitas Padjadjaran (Unpad) menyambut dua mahasiswa baru asal Kabupaten Supiori, Provinsi Papua. Keduanya adalah Yuliana Taran dari Distrik Supiori Timur dan Jein Kesya Novita Rumbewas dari Distrik Kepulauan Aruri.
Perjalanan Yuliana dan Jein menuju bangku kuliah tidak berlangsung mudah. Setelah lulus SMP sekitar tiga tahun lalu, keduanya berani meninggalkan kampung halaman untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik.
Keduanya kemudian melanjutkan pendidikan di SMA KP Margahayu, Kabupaten Bandung, melalui program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Tinggalkan Papua untuk Mencari Pengalaman Baru
Yuliana mengaku salah satu motivasinya mengikuti program ADEM adalah keinginan mendapatkan pengalaman belajar di luar Papua.
Pada awalnya, orang tua Yuliana sempat tidak mengizinkan karena jarak Papua dan Jawa yang sangat jauh. Namun, tekad Yuliana akhirnya membuat orang tuanya memberikan izin.
“Setelah tahu ada beasiswa ADEM, sejujurnya orangtua aku awalnya tidak mengizinkan karena memang jaraknya sangat jauh. Tapi setelah melihat bagaimana saya bertekad dan mengusahakan beasiswa itu, akhirnya diizinkan,” ungkap Yuliana, dikutip dari situs Unpad, Rabu (12/8/2026).
Selama tiga tahun bersekolah di Bandung, Yuliana mulai mengenal lingkungan dan kehidupan di kota tersebut. Pengalaman itu kemudian membuatnya ingin melanjutkan pendidikan tinggi di Bandung.
Ia akhirnya diterima di Unpad melalui beasiswa ADik dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Sementara itu, Jein mendapatkan motivasi dari kakak-kakak kelasnya yang lebih dulu menerima beasiswa ADEM dan melanjutkan pendidikan ke luar Papua.
“Saya melihat, oh kakak-kakak itu bisa ke luar Papua. Terus aku kalau mau punya pengalaman baru, juga harus ke luar. Saat izin ke orangtua, puji Tuhan diizinkan. Akhirnya, sampai di sini,” ujar Jein.
Yuliana Pilih Kesejahteraan Sosial
Yuliana kini menempuh pendidikan di Program Studi Kesejahteraan Sosial, FISIP Unpad.
Pilihan tersebut berkaitan dengan latar belakang pendidikannya di SMA yang mengambil jurusan IPS. Selain itu, Yuliana juga memiliki keinginan untuk mengabdi kepada masyarakat, khususnya di Papua setelah menyelesaikan pendidikan.
“Sebenarnya tidak ada alasan khusus mengapa aku pilih Kesos. Tapi karena di SMA aku jurusan IPS, jadi Kesos sudah tidak asing lagi. Aku juga ingin mengabdi ke masyarakat, apalagi di daerah Papua nanti setelah lulus,” katanya.
Yuliana merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai nelayan, sedangkan ibunya berprofesi sebagai pendeta.
Selain bidang kesejahteraan sosial, Yuliana juga memiliki ketertarikan pada dunia public speaking.
Jein Ingin Jadi Pendidik di Papua
Berbeda dengan Yuliana, Jein memilih Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unpad.
Setelah menyelesaikan kuliah, Jein memiliki cita-cita menjadi seorang pendidik dan kembali berkontribusi di Papua.
Karena itu, selama kuliah ia ingin memanfaatkan berbagai kesempatan untuk mengembangkan diri. Jein berencana mengikuti kegiatan ekstrakurikuler maupun aktivitas kampus, baik yang berkaitan dengan sains maupun olahraga, khususnya bola basket.
Bagi Jein, diterima di Unpad menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan karena kampus tersebut merupakan pilihan pertamanya.
“Rasanya luar biasa, pokoknya kayak nggak nyangka bisa masuk ke kampus pilihan pertama ini,” ujar Jein.
Perjalanan Yuliana dan Jein menunjukkan bagaimana akses beasiswa dapat membuka kesempatan pendidikan bagi pelajar dari daerah untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Setelah mendapatkan pengalaman pendidikan di luar Papua, keduanya membawa harapan untuk kembali memberikan kontribusi bagi masyarakat di daerah asalnya.









