Hasil PISA Jadi Perhatian, Presiden Prabowo Tekankan Tantangan Pendidikan Indonesia Sangat Besar
Jakarta, 22 Agustus 2026 — Presiden Prabowo Subianto menyoroti kondisi pendidikan Indonesia yang masih menghadapi tantangan besar jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain. Ia menyinggung hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang menunjukkan posisi Indonesia masih berada di bawah beberapa negara, termasuk Thailand, Malaysia, dan Vietnam.
Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam Pertemuan dengan 150 Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Prabowo mengatakan hasil survei PISA menjadi salah satu gambaran mengenai kualitas pendidikan Indonesia dibandingkan negara-negara lain.
“Nah jadi kadang-kadang fakta menyakitkan. Katanya sekarang ada suatu survei, survei namanya PISA, P-I-S-A, di mana membandingkan kualitas pendidikan berbagai negara. Kita termasuk tidak terlalu bagus, ya,” kata Prabowo.
Skor PISA Indonesia Masih di Bawah Sejumlah Negara
Menurut Prabowo, capaian Indonesia dalam skor PISA membaca masih berada sedikit di atas Filipina. Namun, Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, Vietnam, Jepang, Singapura, serta rata-rata negara OECD.
“Jadi skor PISA membaca, skor kita tadi kalau Anda lihat di situ, hanya sedikit di atas Filipina. Kita masih di bawah Thailand, di bawah Malaysia, di bawah Belanda, di bawah Vietnam, di bawah rata-rata OECD, di bawah Jepang, di bawah Singapura,” jelasnya.
Prabowo mengakui kondisi tersebut merupakan fakta yang perlu diperhatikan pemerintah. Namun, hasil perbandingan tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi Indonesia untuk menyerah dalam mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan.
Tantangan Indonesia Berbeda dengan Singapura
Prabowo juga membandingkan tantangan pengelolaan pendidikan Indonesia dengan Singapura.
Menurutnya, Singapura memiliki wilayah dan jumlah penduduk yang jauh lebih kecil sehingga pengelolaan sekolah dapat dilakukan dengan cakupan yang lebih mudah dijangkau.
“Kalau Singapura saya nggak terlalu, enggak usah kita terlalu khawatir kok, hanya negara 5 juta kok, (setara) satu kota,” ujar Prabowo.
Ia menggambarkan seorang Menteri Pendidikan Singapura dapat lebih mudah menjangkau sekolah-sekolah di negaranya karena wilayahnya relatif kecil.
Sebaliknya, Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dengan kondisi geografis yang beragam.
Indonesia Punya 388 Ribu Sekolah
Prabowo menyebut Indonesia memiliki sekitar 388 ribu sekolah yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk daerah pegunungan, pulau-pulau terpencil, hingga kawasan terluar.
Kondisi geografis tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh layanan pendidikan berkualitas.
“Jadi bagaimana memberi pendidikan yang terbaik untuk Indonesia, jangankan Indonesia mungkin Kepala Dinas Pendidikan Maluku Utara atau Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Utara, bagaimana dia harus mengecek sekolah-sekolah di Miangas, di pulau-pulau terpencil,” jelasnya.
Menurut Prabowo, kondisi tersebut membuat persoalan pendidikan Indonesia jauh lebih kompleks dibandingkan negara dengan wilayah yang lebih kecil.
Ketertinggalan Pendidikan Tak Boleh Jadi Alasan
Meski mengakui tantangan Indonesia jauh lebih besar, Prabowo menegaskan kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak melakukan perbaikan.
Ia meminta pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan tetap berupaya mengejar ketertinggalan.
“No, it’s real, it’s reality, it’s reality. Dia berhasil, tapi kesulitan kita sangat besar. Ini tidak boleh alasan bahwa kita menilai bahwa kita tidak perlu kejar ketertinggalan,” tegas Prabowo.
Menurutnya, memahami kondisi secara realistis justru penting agar pemerintah dapat menyusun langkah yang tepat untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Perbaikan Pendidikan Membutuhkan Upaya Besar
Pernyataan Prabowo menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan Indonesia membutuhkan strategi yang mampu menjangkau seluruh wilayah, bukan hanya sekolah di kota-kota besar.
Tantangan pemerataan fasilitas, kualitas guru, akses pendidikan, hingga kondisi geografis menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam upaya meningkatkan capaian pendidikan nasional.
Dengan memahami persoalan secara realistis dan tetap berkomitmen mengejar ketertinggalan, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus mempersempit kesenjangan pendidikan antarwilayah.









