Jakarta – Kedisiplinan siswa kerap dikaitkan dengan pendidikan bergaya militer yang menekankan aturan ketat dan kepatuhan terhadap instruksi. Namun, Jepang menunjukkan pendekatan berbeda. Anak-anak di negara tersebut dikenal memiliki kedisiplinan tinggi meski pembentukan karakter tidak bergantung pada pendidikan militer.
Pendidikan anak di Jepang sejak dini menekankan bahwa manusia merupakan bagian dari kelompok. Karena itu, anak dibiasakan memiliki tanggung jawab, kemandirian, rasa hormat, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama.
Ada beberapa prinsip yang diterapkan dalam pendidikan anak di Jepang, antara lain memperlakukan anak dengan hormat, melatih kemandirian, menanamkan kesadaran kolektif, mengajarkan pengendalian emosi, serta membangun disiplin tanpa hukuman fisik.
Kebiasaan tersebut kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak dibiasakan menjaga ketertiban, merawat barang pribadi, hingga membersihkan lingkungan sekolah bersama-sama.
Pendekatan ini berbeda dengan pendidikan bergaya militer yang lebih menekankan instruksi, kepatuhan, seragam, serta aturan yang ketat. Sejumlah pandangan pendidikan menilai pembentukan karakter yang kuat justru membutuhkan keteladanan, dialog, rasa percaya, dan lingkungan yang positif.
Kepala Divisi Akademik Kampus Guru Cikal, Tari Sanjoyo, mengatakan bahwa membangun kedisiplinan anak sebaiknya diawali dengan rasa percaya. Guru dapat membuat kesepakatan bersama siswa sejak awal pembelajaran sehingga anak merasa dilibatkan dan memiliki tanggung jawab terhadap aturan yang dibuat.
Sementara itu, Dosen FITK UIN Walisongo Semarang, Dr A Umar, menilai pelatihan bernuansa militer mungkin dapat menghasilkan ketertiban dalam waktu singkat. Namun, karakter yang kuat membutuhkan proses panjang melalui keteladanan, dialog sehat, relasi yang manusiawi, dan konsistensi nilai di lingkungan sosial.
Kebiasaan Anak Jepang yang Bisa Ditiru
1. Membersihkan sekolah bersama
Siswa di Jepang terbiasa melakukan O-soji, yakni membersihkan kelas, lorong, hingga toilet secara bersama-sama selama sekitar 15–20 menit setiap hari.
2. Membiasakan rasa hormat
Budaya menghormati orang lain ditanamkan sejak dini, termasuk melalui kebiasaan membungkuk ketika menyapa atau berterima kasih.
3. Melatih kemandirian
Anak-anak dibiasakan melakukan berbagai aktivitas sendiri, termasuk berangkat ke sekolah tanpa selalu didampingi orang tua.
4. Tidak berlebihan membandingkan diri
Siswa didorong untuk fokus pada usaha dan perkembangan dirinya, sekaligus membangun ketahanan emosional.
5. Membiasakan pola makan sehat dan tanggung jawab bersama
Saat makan di sekolah, siswa tidak hanya menjadi penerima makanan. Mereka juga bergiliran membantu menyajikan makanan untuk teman-temannya. Guru dan siswa makan bersama dalam suasana yang setara.
Pada akhirnya, pengalaman Jepang menunjukkan bahwa kedisiplinan tidak selalu harus dibangun melalui pendekatan militer. Kebiasaan sehari-hari, rasa percaya, tanggung jawab, keteladanan, dan budaya gotong royong dapat menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter anak.









