Keluhan sejumlah guru soal pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya mendapat respons dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono.
Dalam konferensi pers di BGN, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026), Sudaryono menegaskan bahwa guru seharusnya tidak direpotkan dengan urusan teknis pembagian makanan maupun pengelolaan ompreng.
“Kami terus koordinasi dengan Kementerian Dikdasmen. Ada anggapan bahwa seolah-olah guru itu terganggu jam belajar mengajarnya karena harus mengurusi ompreng, itu seharusnya tidak,” ucap Sudaryono.
Menurutnya, setiap sekolah telah memiliki dua PIC yang mendapatkan insentif dari BGN untuk membantu distribusi MBG.
“Di setiap sekolah ada PIC yang kemudian ada insentif dari kami untuk membantu proses distribusi Makan Bergizi Gratis ini di kelas-kelas. Ada PIC-nya dua orang,” ujarnya.
Sementara itu, peran guru lebih diarahkan pada pendampingan dan edukasi siswa saat makan bersama.
“Guru ini tugas tambahannya adalah ikut menyertai makan bersama murid-muridnya dalam rangka edukasi kepada siswa di kelas. Sudah cuci tangankah, antre mengambil ompreng, duduk, berdoa, makan dengan baik, dijelaskan kandungan gizinya, termasuk dimakan sebelum jam berapanya,” katanya.
Guru juga diminta mengingatkan siswa agar tidak membawa pulang makanan MBG karena berisiko mengalami penurunan kualitas makanan.
“Manakala nanti ada yang membawa pulang maka kita beri anjuran jangan dibawa pulang, takutnya menjadi penyebab kasus keracunan,” imbuhnya.









