Mahasiswa baru Universitas Diponegoro (Undip), Adriano Jeconia Padama, viral setelah berani menyampaikan persoalan mahalnya harga beras di kampung halamannya, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), langsung kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Adriano merupakan mahasiswa jurusan Hubungan Internasional FISIP Undip.
Dalam kesempatan tersebut, Adriano menjelaskan bahwa kebutuhan beras di Alor mencapai sekitar 24-27 ton per tahun, sedangkan kemampuan produksi daerah tersebut hanya sekitar 10 persen dari kebutuhan. Kondisi tersebut membuat masyarakat sangat bergantung pada distribusi beras dari luar daerah.
Menurut Adriano, distribusi beras ke daerahnya sangat bergantung pada kapal. Kondisi cuaca, terutama saat musim hujan, dapat memperparah hambatan distribusi. Akibatnya, harga beras di wilayah pedalaman Alor bisa jauh lebih mahal dibandingkan harga di wilayah kota.
Adriano menyebut harga beras di kawasan kota berkisar Rp13 ribu-Rp15 ribu per kilogram, sementara di pedalaman dapat mencapai Rp17 ribu-Rp18 ribu. Ketika terjadi krisis, harga tersebut bahkan disebut bisa melonjak hingga Rp25 ribu-Rp30 ribu per kilogram.
Aspirasi Adriano kemudian mendapat respons langsung dari Menteri Pertanian. Andi Amran Sulaiman meminta jajaran terkait mengecek kondisi distribusi pangan di Alor dan menyampaikan rencana penguatan distribusi beras, termasuk pembangunan gudang Bulog apabila diperlukan. Mentan juga menyebut target harga beras di Alor dapat ditekan hingga sekitar Rp12.500 per kilogram.
Tak hanya berhenti pada respons di forum, Mentan bersama jajaran kemudian mendatangi Alor untuk menindaklanjuti aspirasi tersebut. Amran mengapresiasi keberanian Adriano yang dinilainya mampu melihat persoalan masyarakat secara langsung dan menyampaikannya kepada pemerintah. Rektor Undip juga menyatakan bangga karena meski masih berstatus mahasiswa baru, Adriano sudah berani menyuarakan persoalan masyarakat di daerah asalnya.









