Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria memberikan tanggapan mengenai reaksi netizen setelah salah satu inovasi BRIN berupa sepatu dipamerkan di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Sepatu tersebut menjadi sorotan karena dinilai sebagian netizen sebagai produk yang terlalu umum dibandingkan ekspektasi terhadap lembaga riset nasional.
Arif mengatakan dirinya hanya tersenyum melihat berbagai komentar yang muncul. Menurutnya, inovasi yang dipamerkan kepada Presiden tidak hanya sepatu, tetapi juga mencakup berbagai teknologi lain seperti pesawat terbang, kapal nuklir, energi, serta inovasi lainnya. Namun, justru sepatu yang paling banyak mendapat perhatian publik.
Ia menjelaskan bahwa sepatu tersebut tetap memiliki unsur teknologi, terutama pada pengolahan bahan karet. Teknologi diperlukan untuk mencampur karet dengan komposisi tertentu agar menghasilkan sepatu yang nyaman digunakan. BRIN sendiri disebut berfokus pada penciptaan teknologinya, sedangkan proses produksi nantinya dapat melibatkan pelaku UMKM.
Menurut Arif, sepatu tersebut dirancang sebagai solusi bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang membutuhkan produk dengan harga terjangkau, tetapi tetap nyaman, awet, dan mudah dirawat. Sepatu tersebut juga dibuat tanpa menggunakan lem maupun jahitan karena proses pembuatannya dilakukan melalui pencetakan.
BRIN juga memiliki sejumlah inovasi sepatu lainnya, termasuk sepatu dengan teknologi tinggi, sepatu insole untuk terapi, serta sepatu yang memanfaatkan limbah batu bara. Arif menegaskan bahwa inovasi tidak selalu harus terlihat sangat canggih, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Arif menilai kritik terhadap inovasi akan selalu muncul dari berbagai sudut pandang. Karena itu, BRIN berupaya melihat persoalan secara positif dan menghadirkan solusi yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat. Menurutnya, teknologi yang baik bukan hanya soal kecanggihan, tetapi juga bagaimana hasil riset dapat memberikan manfaat dan menjawab kebutuhan masyarakat.









