Jakarta – Pendidikan memiliki peran penting dalam membangun cita-cita anak-anak Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di wilayah kepulauan dan berasal dari komunitas adat. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq saat menceritakan pengalamannya mengunjungi anak-anak suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Pada pertengahan Juli 2026, Fajar mengunjungi dua sekolah di Wakatobi yang seluruh muridnya merupakan penduduk suku Bajo. Ia kemudian berbincang dengan sejumlah siswa mengenai cita-cita mereka ketika dewasa.
“Saya berbincang dengan beberapa anak dari suku Bajo. Saya tanya apa mimpi mereka ketika nanti sudah besar. Di antara mereka bercita-cita bermimpi menjadi guru, menjadi dokter, menjadi tentara dan polisi,” ujar Fajar dalam acara Awarding Day SCG Sharing The Dream 2026 di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026).
Menurut Fajar, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mampu membangun mimpi dan membuka pandangan anak terhadap masa depan.
“Jadi kita bisa melihat bagaimana pendidikan telah membangun mimpi seorang anak suku Bajo sehingga mereka bermimpi suatu hari bisa menempuh pendidikan yang lebih baik, pergi ke Surabaya mengambil studi perairan di Universitas Airlangga,” imbuhnya.
Perempuan Pertama Suku Bajo Raih Gelar Doktor
Fajar juga menceritakan pertemuannya dengan seorang perempuan dari suku Bajo yang berhasil meraih gelar doktor. Perempuan tersebut kini menjadi dosen di Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi (ITBM Wakatobi).
“Jadi ada perempuan suku Bajo meraih gelar doktor dan sekarang dia menjadi dosen di Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi, ITBM Wakatobi,” kata Fajar.
Menurutnya, kisah tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat yang selama ini dikenal hidup di wilayah perairan juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri melalui pendidikan tinggi.
“Jadi satu suku yang hidup di perairan, yang hidup di laut, ternyata punya mimpi dan bisa meraih jenjang pendidikan tinggi. Dan itu berkat pendidikan,” ujarnya.
Fajar kemudian menanyakan kepada anak-anak suku Bajo mengenai alasan mereka ingin melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.
Para siswa tersebut memiliki harapan agar ilmu dan teknologi yang mereka dapatkan nantinya dapat digunakan untuk membantu kehidupan masyarakat, termasuk mengembangkan cara melaut yang selama ini masih menggunakan peralatan tradisional.
“Ya karena mereka punya harapan ketika orangtuanya melaut, mengambil ikan dengan peralatan yang tradisional, kelak mereka di kemudian hari bisa memadukan teknologi untuk bisa melaut,” jelas Fajar.
Ia kembali menegaskan bahwa salah satu fungsi penting pendidikan adalah membangun mimpi anak-anak Indonesia.
Anak Bertalenta Butuh Beasiswa dan Pengembangan Diri
Sementara itu, Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono, mengatakan bahwa kebutuhan anak-anak bertalenta tidak berhenti pada dukungan pendidikan formal.
Menurut Irene, dua tahun lalu dilakukan riset kecil untuk mengetahui kebutuhan anak-anak bertalenta di Indonesia. Hasilnya menunjukkan dua kebutuhan utama, yakni beasiswa dan pengembangan diri.
“Mereka tidak hanya ingin sampai pada medali prestasi, tapi ingin terus mengembangkan diri,” tutur Irene.
Karena itu, menurutnya, dukungan yang diberikan kepada anak-anak bertalenta perlu mencakup pengembangan kemampuan dan karakter, bukan hanya bantuan biaya pendidikan.
SCG melalui program Sharing The Dream turut memberikan dukungan berupa beasiswa sekaligus pelatihan bagi penerima manfaat.
Irene mengatakan pengembangan karakter diperlukan untuk memperkuat kemampuan adaptasi dan berpikir kritis generasi muda.
“Resiliensi dan kemampuan belajar ini didukung dengan penyiapan yang baik dari SCG melalui Green Active Generation. Dari ide menuju aksi, ini akan menjadi talenta unggul kita,” ujarnya.
SCG Berikan 412 Beasiswa pada 2026
Program beasiswa SCG Sharing The Dream kembali digelar pada 2026 setelah rutin dilaksanakan sejak 2012.
Pada tahun ini, SCG memberikan 412 beasiswa, yang terdiri dari 400 siswa SMA/sederajat dan 12 mahasiswa jenjang S1.
Penganugerahan beasiswa tersebut berlangsung di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Selasa (11/8/2026).
President Director PT SCG Indonesia, Pattaraphon Charttongkum, mengatakan pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu bentuk kontribusi perusahaan dalam mendukung Indonesia.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya memberikan bantuan finansial kepada penerima beasiswa, tetapi juga menjadi jembatan antara pendidikan dan pengembangan keterampilan.
“Ini adalah salah satu program kami untuk menjembatani antara pendidikan dan keahlian. Jadi kita tidak hanya memberikan dukungan finansial kepada penerima beasiswa, tetapi juga bagaimana kita mengembangkan mereka untuk menjadi warga negara yang siap menyongsong masa depan,” ujar Pattaraphon.
Melalui pendidikan, beasiswa, dan program pengembangan diri, anak-anak Indonesia diharapkan tidak hanya mampu meraih prestasi, tetapi juga memiliki keberanian untuk membangun cita-cita dan berkontribusi bagi masyarakat.









